Jumat, 19 Oktober 2018

Menebarkan Virus Membaca Bagian 1


Sebagai layaknya seorang mahasiswa umumnya pasti tidak lepas dari yang namanya literatur atau yang biasa disebut dengan buku bacaan. Itulah kegiatan yang saya lakukan dalam sehari-hari apabila terdapat waktu senggang mengisinya dengan membaca buku dimanapun berada sampai pada saat ditempat umum pun saya membaca buku apabila sedang sendirian untuk menghilangkan rasa bosan. Buku bagi saya merupakan teman terbaik dikala senang maupun sedih karena dapat menambah wawasan dalam berfikir juga dapat melihat masalah dari berbagai sudut pandang. Sebagai seorang yang gemar membaca saya ingin sekali menebarkan “virus” membaca tidak pada kalangan mahasiswa saja namun juga pada khalayak umum, teman ngopi saya, teman olahraga saya, ataupun yang lainnya. Selama “virus” yang saya tebarkan itu positif kenapa tidak, asalkan jangan virus penyakit saja gitu toh prinsipnya. Semoga yang membaca tulisan saya ini juga dapat meningkatkan hobi membacanya dari yang telah para pembaca lakukan sebelumnya.
Ketika melihat hasil survey yang dilakukan pada tahun 2016  saya merasa sedih, sedih dikarenakan melihat data tersebut. Data tersebut menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 Negara yang di survey oleh Keneticket dalam hal minat baca dengan jumlah 0-0,001 buku yang dibaca pertahun, saya dalam hati menggerutu “kok yo ngene nemen padahal ya banyak manfaat yang didapat dari membaca loh”. Negara kita kalah jauh dari Negara tetangga yaitu Singapura dan Malaysia, sebelumnya mohon maaf apabila dalam tulisan saya terdapat bahasa jawa dikarenakan saya memang orang jawa.
Saya sendiri sebenarnya bukan orang yang gemar sekali membaca ataupun kutu buku meskipun di rumah terdapat tumpukan buku dikarenakan orang tua saya merupakan seorang akademisi. Pada saat itu saya dilanda kebosanan bingung harus berbuat apa, akhirnya saya memutuskan pergi ke suatu toko buku di tengah kota untuk membeli satu buku, waktu itu saya ingat membeli sebuah novel Indonesia bukan novel terjemahan. Berawal dari situlah kegemaran saya untuk membaca muncul saya berkata “nikmat juga ternyata membaca” sampai pada saat ini banyak buku bertumpuk di kamar. Sampai-sampai setiap minggu kadang terdapat dua buku baru di rak buku saya yang menanti untuk dibaca. Pada saat itu saya belum bekerja dan belum memiliki penghasilan tetap sehingga mau tidak mau harus menyisihkan uang saku untuk membeli beberapa buku baru sebagai bahan bacaan.
Kembali lagi dalam menumbuhkan minat baca di kalangan saya sendiri, awalnya pada teman nongkrong atau di daerah saya biasa disebut dengan teman ngopi. Kebetulan diantara teman saya ada yang memiliki kedai kopi bisa disebut dengan owner bahasa gaulnya. Saya menulis apa adanya mohon maaf apabila teman-teman ngopi saya membaca tulisan ini “sepurane seng akeh”, saya dapat mengatakan minat baca dar teman-teman saya tersebut sangat kurang bahkan kurang sekali atau mungkin karena mereka sibuk dengan urusan masing-masing sehingga tidak sempat untuk membaca buku.
Hampir setiap malam saya nongkrong di kedai kopi tersebut bersama teman ngopi saya juga tentunya yang setiap hari pasti tidak pernah absen untuk ngopi disana. Setiap saya ngopi bareng teman-teman saya itu hampir setiap hari hal yang dilakukan sama kalau tidak main game sendiri-sendiri ya gibah atau bahasa jawanya rasan-rasan. Saya awalnya juga mengikuti hal tersebut tapi lama kelamaan yang menjadi bahan untuk gibah malah teman ngopinya sendiri “gak apik iki nek terus-terusan koyok ngene” dalam hati saya, karena pasti akan menjadi racun dalam pertemanan atau toxic. Akhirnya apabila ketika acara ngopi tersebut ada yang gibah atau rasan-rasan ya saya hanya mengiyakan saja “bodo amat pikirku ngapain juga ikut ngurusin urusan orang urusan kita aja banyak yang terbengkalai malah ngurusin kehidupan orang” kadang ya tak tinggal main game push rank hal ini lebih berfaedah menurutku padahal sebenarnya tidak.
Hari-hari berikutnya juga demikian tak ada perubahan, sehingga saya memutuskan untuk merubah diri saya sendiri bodo amat sama teman-teman yang lain mau gibah kek, mau main game, mau jungkir balik terserah. Awalnya saya coba membawa buku ketika nongkrong sebab jenuh apabila terus-terusan membaca hanya di kamar saja, ketika temen-temen nongkrong dan hal yang dibicarakan mulai ngelantur saya tinggal baca buku di meja tersendiri ternyata asik juga pikirku. Meskipun membaca sendirian di meja tersendiri namun yang saya rasakan saya tidak sendirian mungkin karena imajinasi saya pada saat membaca jadi terasa tidak sendirian. Awalnya sih pada saat saya nongkrong membawa buku teman-teman saya ada yang nyindir ada yang acuh ataupun skeptis mungkin karena ini merupakan kebiasaan baru atau hal yang tabu bagi mereka. Namun dalam hati saya berkata “ayolah moco’o rek opo seh salahe moco mosok rugi tapi malah untung daripada yang dibicarakan ya itu-itu saja”. Padahal kita hidup di kota apalagi pulau jawa dimana buku bacaan sangat mudah didapatkan. Berbeda dengan saudara-saudara kita yang ada dikawasan Indonesia bagian timur yang mencari buku bacaan saja bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami.
Akhirnya setelah beberapa hari sampai beberapa minggu teman ngopi saya bertanya dalam bahasa jawa “mol buku seng apik opo yo? Aku pengen moco” dari situ hati saya langsung bergetar bahwa usaha yang aku lakukan selama ini tidak sia-sia. Kemudian saya jawab “yo awakmu senenge buku tentang opo? Nek pingin moco diawali karo buku seng mbok senengi sek siji ae beno ga jenuh.” Dari hal yang sangat sederhana itulah minat baca seseorang dapat muncul, beberapa teman ngopi saya akhirnya juga suka membaca buku meskipun belum semuanya karena memang merubah suatu kebiasaan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dalam tulisan ini bukan berarti saya paling benar  atau paling sempurna loh, namanya manusia pasti memiliki kesalahan namun alangkah baiknya apabila kita menambah kegiatan yang bersifat positif yaitu membaca buku.
“Virus” yang saya tebarkan membuahkan hasil meskipun tidak semuanya. “Virus” ini saya namakan “virus membaca” bukan virus penyakit loh ya. Karena dengan kita membaca buku pikiran kita jadi lebih terbuka tidak menjadi manusia yang berpikirian sempit, imajinasi kita dapat bertambah tinggi sesuai apa yang dikatakan Walt Disney apabila kamu dapat berimajinasi kamu dapat merealisasikannya. Bahkan di eropa saja warga negaranya pasti kemanapun membawa sebuah buku di tasnya. Hal ini dikarenakan budaya mereka adalah budaya baca beda dengan bangsa kita yaitu yang menggunakan budaya tutur atau berbicara. Prinsip yang saya pegang teguh untuk menumbuhkan minat baca yaitu pendapat dari Tan Malaka dalam bukunya yang berjudul MADILOG (Materialisme, Dialektika, dan Logika) yang menyatakan Selama Toko Buku Ada Selama Itu Pustaka Dapat Dibentuk Kembali Kalau Perlu Dan Memang Perlu Pakaian Dan Makanan Dikurangi. Mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada pihak yang kurang berkenan dengan tulisan sederhana saya ini sampai jumpa dalam tulisan saya selanjutnya. Saya berharap dapat menjadikan tulisan-tulisan saya menjadi sebuah buku kedepannya. SALAM LITERASI.
Terima kasih yang sebesar-besarnya penulis ucapkan kepada para pembaca karena telah menyempatkan untuk membaca tulisan sederhana ini. Semoga dapat menginspirasi dan sampai bertemu pada tulisan saya selanjutnya.