Sebagai layaknya seorang mahasiswa
umumnya pasti tidak lepas dari yang namanya literatur atau yang biasa disebut
dengan buku bacaan. Itulah kegiatan yang saya lakukan dalam sehari-hari apabila
terdapat waktu senggang mengisinya dengan membaca buku dimanapun berada sampai
pada saat ditempat umum pun saya membaca buku apabila sedang sendirian untuk
menghilangkan rasa bosan. Buku bagi saya merupakan teman terbaik dikala senang
maupun sedih karena dapat menambah wawasan dalam berfikir juga dapat melihat
masalah dari berbagai sudut pandang. Sebagai seorang yang gemar membaca saya
ingin sekali menebarkan “virus” membaca tidak pada kalangan mahasiswa saja
namun juga pada khalayak umum, teman ngopi saya, teman olahraga saya, ataupun
yang lainnya. Selama “virus” yang saya tebarkan itu positif kenapa tidak,
asalkan jangan virus penyakit saja gitu toh prinsipnya. Semoga yang membaca
tulisan saya ini juga dapat meningkatkan hobi membacanya dari yang telah para
pembaca lakukan sebelumnya.
Ketika melihat hasil survey yang
dilakukan pada tahun 2016 saya merasa
sedih, sedih dikarenakan melihat data tersebut. Data tersebut menunjukkan bahwa
Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 Negara yang di survey oleh Keneticket dalam
hal minat baca dengan jumlah 0-0,001 buku yang dibaca pertahun, saya dalam hati
menggerutu “kok yo ngene nemen padahal ya banyak manfaat yang didapat dari
membaca loh”. Negara kita kalah jauh dari Negara tetangga yaitu Singapura dan
Malaysia, sebelumnya mohon maaf apabila dalam tulisan saya terdapat bahasa jawa
dikarenakan saya memang orang jawa.
Saya sendiri sebenarnya bukan orang
yang gemar sekali membaca ataupun kutu buku meskipun di rumah terdapat tumpukan
buku dikarenakan orang tua saya merupakan seorang akademisi. Pada saat itu saya
dilanda kebosanan bingung harus berbuat apa, akhirnya saya memutuskan pergi ke
suatu toko buku di tengah kota untuk membeli satu buku, waktu itu saya ingat
membeli sebuah novel Indonesia bukan novel terjemahan. Berawal dari situlah
kegemaran saya untuk membaca muncul saya berkata “nikmat juga ternyata membaca”
sampai pada saat ini banyak buku bertumpuk di kamar. Sampai-sampai setiap
minggu kadang terdapat dua buku baru di rak buku saya yang menanti untuk dibaca.
Pada saat itu saya belum bekerja dan belum memiliki penghasilan tetap sehingga
mau tidak mau harus menyisihkan uang saku untuk membeli beberapa buku baru
sebagai bahan bacaan.
Kembali lagi dalam menumbuhkan minat
baca di kalangan saya sendiri, awalnya pada teman nongkrong atau di daerah saya
biasa disebut dengan teman ngopi. Kebetulan diantara teman saya ada yang
memiliki kedai kopi bisa disebut dengan owner
bahasa gaulnya. Saya menulis apa adanya mohon maaf apabila teman-teman ngopi
saya membaca tulisan ini “sepurane seng akeh”, saya dapat mengatakan minat baca
dar teman-teman saya tersebut sangat kurang bahkan kurang sekali atau mungkin
karena mereka sibuk dengan urusan masing-masing sehingga tidak sempat untuk
membaca buku.
Hampir setiap malam saya nongkrong di
kedai kopi tersebut bersama teman ngopi saya juga tentunya yang setiap hari
pasti tidak pernah absen untuk ngopi disana. Setiap saya ngopi bareng
teman-teman saya itu hampir setiap hari hal yang dilakukan sama kalau tidak
main game sendiri-sendiri ya gibah atau bahasa jawanya rasan-rasan. Saya awalnya
juga mengikuti hal tersebut tapi lama kelamaan yang menjadi bahan untuk gibah
malah teman ngopinya sendiri “gak apik iki nek terus-terusan koyok ngene” dalam
hati saya, karena pasti akan menjadi racun dalam pertemanan atau toxic. Akhirnya apabila ketika acara
ngopi tersebut ada yang gibah atau rasan-rasan ya saya hanya mengiyakan saja
“bodo amat pikirku ngapain juga ikut ngurusin urusan orang urusan kita aja
banyak yang terbengkalai malah ngurusin kehidupan orang” kadang ya tak tinggal
main game push rank hal ini lebih
berfaedah menurutku padahal sebenarnya tidak.
Hari-hari berikutnya juga demikian
tak ada perubahan, sehingga saya memutuskan untuk merubah diri saya sendiri
bodo amat sama teman-teman yang lain mau gibah kek, mau main game, mau jungkir
balik terserah. Awalnya saya coba membawa buku ketika nongkrong sebab jenuh
apabila terus-terusan membaca hanya di kamar saja, ketika temen-temen nongkrong
dan hal yang dibicarakan mulai ngelantur saya tinggal baca buku di meja
tersendiri ternyata asik juga pikirku. Meskipun membaca sendirian di meja
tersendiri namun yang saya rasakan saya tidak sendirian mungkin karena
imajinasi saya pada saat membaca jadi terasa tidak sendirian. Awalnya sih pada
saat saya nongkrong membawa buku teman-teman saya ada yang nyindir ada yang
acuh ataupun skeptis mungkin karena ini merupakan kebiasaan baru atau hal yang
tabu bagi mereka. Namun dalam hati saya berkata “ayolah moco’o rek opo seh
salahe moco mosok rugi tapi malah untung daripada yang dibicarakan ya itu-itu
saja”. Padahal kita hidup di kota apalagi pulau jawa dimana buku bacaan sangat
mudah didapatkan. Berbeda dengan saudara-saudara kita yang ada dikawasan
Indonesia bagian timur yang mencari buku bacaan saja bagaikan mencari jarum di
tumpukan jerami.
Akhirnya setelah beberapa hari
sampai beberapa minggu teman ngopi saya bertanya dalam bahasa jawa “mol buku
seng apik opo yo? Aku pengen moco” dari situ hati saya langsung bergetar bahwa
usaha yang aku lakukan selama ini tidak sia-sia. Kemudian saya jawab “yo awakmu
senenge buku tentang opo? Nek pingin moco diawali karo buku seng mbok senengi
sek siji ae beno ga jenuh.” Dari hal yang sangat sederhana itulah minat baca
seseorang dapat muncul, beberapa teman ngopi saya akhirnya juga suka membaca
buku meskipun belum semuanya karena memang merubah suatu kebiasaan tidak
semudah membalikkan telapak tangan. Dalam tulisan ini bukan berarti saya paling
benar atau paling sempurna loh, namanya
manusia pasti memiliki kesalahan namun alangkah baiknya apabila kita menambah
kegiatan yang bersifat positif yaitu membaca buku.
“Virus” yang saya tebarkan
membuahkan hasil meskipun tidak semuanya. “Virus” ini saya namakan “virus
membaca” bukan virus penyakit loh ya. Karena dengan kita membaca buku pikiran
kita jadi lebih terbuka tidak menjadi manusia yang berpikirian sempit,
imajinasi kita dapat bertambah tinggi sesuai apa yang dikatakan Walt Disney
apabila kamu dapat berimajinasi kamu dapat merealisasikannya. Bahkan di eropa
saja warga negaranya pasti kemanapun membawa sebuah buku di tasnya. Hal ini
dikarenakan budaya mereka adalah budaya baca beda dengan bangsa kita yaitu yang
menggunakan budaya tutur atau berbicara. Prinsip yang saya pegang teguh untuk
menumbuhkan minat baca yaitu pendapat dari Tan Malaka dalam bukunya yang
berjudul MADILOG (Materialisme, Dialektika, dan Logika) yang menyatakan Selama
Toko Buku Ada Selama Itu Pustaka Dapat Dibentuk Kembali Kalau Perlu Dan Memang
Perlu Pakaian Dan Makanan Dikurangi. Mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila
ada pihak yang kurang berkenan dengan tulisan sederhana saya ini sampai jumpa
dalam tulisan saya selanjutnya. Saya berharap dapat menjadikan tulisan-tulisan
saya menjadi sebuah buku kedepannya. SALAM LITERASI.
Terima kasih yang sebesar-besarnya penulis ucapkan kepada para pembaca karena telah menyempatkan untuk membaca tulisan sederhana ini. Semoga dapat menginspirasi dan sampai bertemu pada tulisan saya selanjutnya.