Senin, 19 November 2018

Menebarkan Virus Membaca Bagian 2


Tulisan saya kali ini merupakan lanjutan dari tulisan saya sebelumnya yaitu menebar “virus membaca” part 2 namun objeknya kali ini berbeda dengan sebelumnya. Objek sebelumnya yaitu teman-teman ngopi atau teman nongkrong namun kali ini seorang teman perempuan bisa dibilang adik angkatan waktu jaman kuliah sih, tapi saya baru mengenalnya baru-baru ini setelah saya lulus kuliah dari jenjang strata satu. Para pembaca yang budiman pasti bertanya-tanya bagaimana saya bisa mengenal gadis tersebut padahal semasa kuliah saja akupun tidak pernah melihat batang hidungnya.
Saya bercerita sedikit bagaimana awal saya kenal dengan gadis tersebut, jadi pada waktu itu saya hendak mendistribusikan tugas akhir saya pada seorang dosen memang dosen satu ini seperti “setan” karena jarang sekali berada di kampus karena merangkap sebagai konsultan hukum di Jakarta. Pada hari itu posisi beliau ada di jember langsung saya gercep “gerak cepat” “mumpung ada di jember” pikirku langsung saya berangkat ke kampus untuk menenmui beliau. Sesuai perkiraan pada saat datang ke kampus di depan ruang jurusan sudah antri bukan main seperti antri sembako saja oleh anak-anak s-1 yang hendak bimbingan. Cukup lama saya menunggu antrian kepada beliau sekitar 45 menitan, namun yang menarik disini para anak bimbingannya cewek semua tidak ada cowok satupun.
Pas lagi asik-asiknya menunggu tiba-tiba ada seorang cewek yang menyapa dan mengajak ngobrol “mas mau bimbingan ke dosen ini ya” “engga mbak mau distribusi” karena belum kenal saya jawab dengan seadanya. Cewek yang saya maksud yaitu adik angkatan  yang jadi objek dalam tulisan ini. Sembari menunggu beliau ga ada salahnya untuk ngobrol dulu meskipun ngobrolnya bagaikan diintrogasi oleh polisi karena saya yang terus dicecar pertanyaan. Ternyata objek yang dibahas oleh dalam tugas akhir saya sama dengan cewek tersebut akhirnya hubungan ini terus berlanjut tidak sampai dalam ruangan tersebut saja.
Hubungan ini terus berlanjut hanya sebatas untuk membantu menyelesaikan tugas akhir yang dia kerjakan, jadi saya diminta untuk membantu memberikan pandangan mengenai tugas akhir tersebut. Saya mau membantu karena hal ini juga bermanfaat bagi saya, dapat menambah khasanah berfikir. Ada pepatah yang mengatakan “sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain” tapi bukan berarti dimanfaatkan. Pada saat saya bertanya mengenai tugas akhirnya malah dia tidak begitu paham mengenai apa yang ditulis, lah terus bagaimana apabila penulis tidak paham apa yang dirinya tulis. Disini saya dapat menarik kesimpulan bahwa anak ini kurang membaca sehingga kurangnya wawasan mengenai apa yang dia tulis.
Sebelum saya memberikan masukan sempat ngobrol beberapa saat mengenai tugas akhir yang dia tulis tersebut. “Mas sampean kok bisa paham banget tentang skripsiku?” “Ya belajar mbak sama sering baca juga sih, km jarang baca ya baca lah mbak sayang loh kalo jarang baca” jawabku. Obrolan tersebut terus berlanjut ‘oh pantes aja yaudah aku mau rajin baca buku deh mulai dari sekarang”. Dalam hati akupun berkata “alhamdulillah ternyata ada mahasiswa sekarang yang masih mempunyai minat baca. Dimana sekarang saya melihatnya daripada membaca buku lebih baik main gadget entah itu social media seperti instagram, facebook, atau yang lainnya dan tidak lupa juga bermain game itu merupakan hal yang wajib sampai-sampai mengalahkan kewajiban kita sendiri.
Akhirnya saya berjanji apabila dia bisa lulus dengan nilai yang bagus, bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh dosen penguji, dan juga dapat mempertahankan jawabannya di hadapan dosen penguji maka akan saya beri buku secara cuma-cuma. Hal ini sebagai motivasi agar dia semangat belajar dan membaca buku juga tentunya agar pandangan-pandangan yang saya berikan tidak hanya ditelan secara mentah-mentah. Bayangkan saja ada seorang mahasiswa  yang lembar ucapan terima kasih saja masih meng“copy” tulisan dari orang lain apalagi yang ditulis dalam pembahasannya itu bagaimana “mungkin lebih dari 90% itu bukan tulisannya” pikirku.
Menurut saya kurangnya minat baca atau membaca suatu literatur dapat membuat pikiran mahasiswa atau seseorang kurang kreatif sehingga untuk hal yang sangat sederhana saja harus mencontoh tulisan orang lain yang jelas objeknya pasti berbeda. Seorang pemikir besar berawal dari membaca bahkan kenyang akan membaca tidak ada seseorang pemikir bersar yang tidak pernah membaca buku tidak ada seorang pun. Contohnya saja Karl Marx dengan teori sosialis utopisnya, Sigmund Freud dengan teori psikoanalisisnya, Charles Darwin dengan teori evolusinya dan masih banyak lagi.
Pada akhirnya gadis tersebut pun menjalani ujian skripsi merupakan ujian terberat bagi mahasiswa tingkat akhir. Ujian skripsi rentang waktunya paling lama 2 jam 30 menit tapi stres yang dialami oleh mahasiswa selama seminggu penuh sebelum ujian dilaksanakan, karena mahasiswa harus mempertanggung jawabkan karya tulisannya dihadapan para dosen penguji. Bahkan ada yang tidak enak makan, tidurpun tidak nyenyak, adapun yang sampai jatuh sakit. Namun saya selalu memberi motivasi kepada gadis ini seperti dosen pembimbing memberikan motivasi kepada mahasiswa bimbingannya lah. 
Sehari sebelum ujian dilaksanakan handphone saya berdering terus-menerus setelah jam maghrib karena gadis tersebut terus menanyakan mengenai tulisannya. Dalam hati saya berkata “ini kan tulisanmu seharusnya yang paham yo kamu sebagai penulis mosok semua tanya ke aku”. Keesokan harinya tibalah hari-hari yang menegangkan bagi semua mahasiswa baik itu program sarjana, pascasarjana, maupun doktoral yaitu ujian tugas akhir. Sebelum ujian dimulai saya memberikan pesan padanya “jangan sampai gabisa jawab, harus bisa mempertahankan jawabanmu, dan take it easy ojok dipikir jeru-jeru”. Ujianpun selesai dilaksanakan dan hasilnyapun memuaskan sesuai dengan janji, saya memberikan sebuah buku. Buku yang saya berikan merupakan buku terbaik yang pernah saya baca saat ini selain buku mengenai ilmu hukum yaitu judulnya SEBUAH SENI UNTUK BERSIKAP BODO AMAT karya MARK MANSON buku tentang pengembangan diri sih. Tapi dengan syarat harus dibaca karena buat apa saya memberikan sebuah buku kalau tidak untuk dibaca.
Pesan saya kepada seluruh pelajar baik pada siswa ataupun mahasiswa dan semua warga Indonesia teruslah membaca buku karena suatu disiplin ilmu terus berkembang tidak statis pada titik yang sama. Dengan membaca selain menambah pengetahuan juga membuat pikiran seseorang lebih terbuka pada setiap hal yang terjadi tidak asal menjudge tentang hal tertentu, tidak gampang di doktrin mengenai hal-hal baru, tidak gampang diprovokasi. Tidak seperti orang-orang berpikiran sempit atau bahasa kerennya orang bersumbu pendek. Terima kasih bagi para membaca yang budiman telah menyempatkan membaca tulisan sederhana ini sampai bertemu saya pada tulisan selanjutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar