Tulisan saya kali ini merupakan
lanjutan dari tulisan saya sebelumnya yaitu menebar “virus membaca” part 2
namun objeknya kali ini berbeda dengan sebelumnya. Objek sebelumnya yaitu
teman-teman ngopi atau teman nongkrong namun kali ini seorang teman perempuan
bisa dibilang adik angkatan waktu jaman kuliah sih, tapi saya baru mengenalnya
baru-baru ini setelah saya lulus kuliah dari jenjang strata satu. Para pembaca
yang budiman pasti bertanya-tanya bagaimana saya bisa mengenal gadis tersebut
padahal semasa kuliah saja akupun tidak pernah melihat batang hidungnya.
Saya bercerita sedikit bagaimana
awal saya kenal dengan gadis tersebut, jadi pada waktu itu saya hendak
mendistribusikan tugas akhir saya pada seorang dosen memang dosen satu ini
seperti “setan” karena jarang sekali berada di kampus karena merangkap sebagai
konsultan hukum di Jakarta. Pada hari itu posisi beliau ada di jember langsung
saya gercep “gerak cepat” “mumpung ada di jember” pikirku langsung saya
berangkat ke kampus untuk menenmui beliau. Sesuai perkiraan pada saat datang ke
kampus di depan ruang jurusan sudah antri bukan main seperti antri sembako saja
oleh anak-anak s-1 yang hendak bimbingan. Cukup lama saya menunggu antrian
kepada beliau sekitar 45 menitan, namun yang menarik disini para anak
bimbingannya cewek semua tidak ada cowok satupun.
Pas
lagi asik-asiknya menunggu tiba-tiba ada seorang cewek yang menyapa dan
mengajak ngobrol “mas mau bimbingan ke dosen ini ya” “engga mbak mau
distribusi” karena belum kenal saya jawab dengan seadanya. Cewek yang saya
maksud yaitu adik angkatan yang jadi
objek dalam tulisan ini. Sembari menunggu beliau ga ada salahnya untuk ngobrol
dulu meskipun ngobrolnya bagaikan diintrogasi oleh polisi karena saya yang
terus dicecar pertanyaan. Ternyata objek yang dibahas oleh dalam tugas akhir
saya sama dengan cewek tersebut akhirnya hubungan ini terus berlanjut tidak
sampai dalam ruangan tersebut saja.
Hubungan
ini terus berlanjut hanya sebatas untuk membantu menyelesaikan tugas akhir yang
dia kerjakan, jadi saya diminta untuk membantu memberikan pandangan mengenai
tugas akhir tersebut. Saya mau membantu karena hal ini juga bermanfaat bagi
saya, dapat menambah khasanah berfikir. Ada pepatah yang mengatakan
“sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain” tapi bukan
berarti dimanfaatkan. Pada saat saya bertanya mengenai tugas akhirnya malah dia
tidak begitu paham mengenai apa yang ditulis, lah terus bagaimana apabila
penulis tidak paham apa yang dirinya tulis. Disini saya dapat menarik kesimpulan
bahwa anak ini kurang membaca sehingga kurangnya wawasan mengenai apa yang dia
tulis.
Sebelum
saya memberikan masukan sempat ngobrol beberapa saat mengenai tugas akhir yang
dia tulis tersebut. “Mas sampean kok bisa paham banget tentang skripsiku?” “Ya
belajar mbak sama sering baca juga sih, km jarang baca ya baca lah mbak sayang
loh kalo jarang baca” jawabku. Obrolan tersebut terus berlanjut ‘oh pantes aja
yaudah aku mau rajin baca buku deh mulai dari sekarang”. Dalam hati akupun
berkata “alhamdulillah ternyata ada mahasiswa sekarang yang masih mempunyai
minat baca. Dimana sekarang saya melihatnya daripada membaca buku lebih baik
main gadget entah itu social media seperti instagram, facebook, atau yang
lainnya dan tidak lupa juga bermain game itu merupakan hal yang wajib
sampai-sampai mengalahkan kewajiban kita sendiri.
Akhirnya
saya berjanji apabila dia bisa lulus dengan nilai yang bagus, bisa menjawab
pertanyaan yang diajukan oleh dosen penguji, dan juga dapat mempertahankan
jawabannya di hadapan dosen penguji maka akan saya beri buku secara cuma-cuma.
Hal ini sebagai motivasi agar dia semangat belajar dan membaca buku juga
tentunya agar pandangan-pandangan yang saya berikan tidak hanya ditelan secara
mentah-mentah. Bayangkan saja ada seorang mahasiswa yang lembar ucapan terima kasih saja masih
meng“copy” tulisan dari orang lain apalagi yang ditulis dalam pembahasannya itu
bagaimana “mungkin lebih dari 90% itu bukan tulisannya” pikirku.
Menurut
saya kurangnya minat baca atau membaca suatu literatur dapat membuat pikiran
mahasiswa atau seseorang kurang kreatif sehingga untuk hal yang sangat
sederhana saja harus mencontoh tulisan orang lain yang jelas objeknya pasti
berbeda. Seorang pemikir besar berawal dari membaca bahkan kenyang akan membaca
tidak ada seseorang pemikir bersar yang tidak pernah membaca buku tidak ada
seorang pun. Contohnya saja Karl Marx dengan teori sosialis utopisnya, Sigmund
Freud dengan teori psikoanalisisnya, Charles Darwin dengan teori evolusinya dan
masih banyak lagi.
Pada
akhirnya gadis tersebut pun menjalani ujian skripsi merupakan ujian terberat
bagi mahasiswa tingkat akhir. Ujian skripsi rentang waktunya paling lama 2 jam
30 menit tapi stres yang dialami oleh mahasiswa selama seminggu penuh sebelum
ujian dilaksanakan, karena mahasiswa harus mempertanggung jawabkan karya
tulisannya dihadapan para dosen penguji. Bahkan ada yang tidak enak makan,
tidurpun tidak nyenyak, adapun yang sampai jatuh sakit. Namun saya selalu
memberi motivasi kepada gadis ini seperti dosen pembimbing memberikan motivasi
kepada mahasiswa bimbingannya lah.
Sehari
sebelum ujian dilaksanakan handphone saya berdering terus-menerus setelah jam
maghrib karena gadis tersebut terus menanyakan mengenai tulisannya. Dalam hati
saya berkata “ini kan tulisanmu seharusnya yang paham yo kamu sebagai penulis
mosok semua tanya ke aku”. Keesokan harinya tibalah hari-hari yang menegangkan
bagi semua mahasiswa baik itu program sarjana, pascasarjana, maupun doktoral
yaitu ujian tugas akhir. Sebelum ujian dimulai saya memberikan pesan padanya
“jangan sampai gabisa jawab, harus bisa mempertahankan jawabanmu, dan take it
easy ojok dipikir jeru-jeru”. Ujianpun selesai dilaksanakan dan hasilnyapun
memuaskan sesuai dengan janji, saya memberikan sebuah buku. Buku yang saya
berikan merupakan buku terbaik yang pernah saya baca saat ini selain buku
mengenai ilmu hukum yaitu judulnya SEBUAH SENI UNTUK BERSIKAP BODO AMAT karya
MARK MANSON buku tentang pengembangan diri sih. Tapi dengan syarat harus dibaca
karena buat apa saya memberikan sebuah buku kalau tidak untuk dibaca.
Pesan
saya kepada seluruh pelajar baik pada siswa ataupun mahasiswa dan semua warga
Indonesia teruslah membaca buku karena suatu disiplin ilmu terus berkembang
tidak statis pada titik yang sama. Dengan membaca selain menambah pengetahuan
juga membuat pikiran seseorang lebih terbuka pada setiap hal yang terjadi tidak
asal menjudge tentang hal tertentu, tidak gampang di doktrin mengenai hal-hal
baru, tidak gampang diprovokasi. Tidak seperti orang-orang berpikiran sempit
atau bahasa kerennya orang bersumbu pendek. Terima kasih bagi para membaca yang
budiman telah menyempatkan membaca tulisan sederhana ini sampai bertemu saya
pada tulisan selanjutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar